pict. "I want you to show your smile to me.. forever.." By Dea.
‘Setelah gue pikir-pikir lagi, mungkin ini memang sudah takdir. Gue sekarang udah nggak bisa mengelak dari hasil pengadilan kemarin.’ Wajah Adit terlihat berpikir keras. Hal ini sedikit membuatnya pusing. Ia harap semua aktivitas kemarin tidak pernah terjadi. Ya. Ia harap perceraian orangtuanya kemarin tidak pernah terjadi.
Adit memijat kepalanya dan mulai merasakan nyeri di seluruh tubuhnya. ‘Gue rasa, gue terlalu capek buat pergi ke sekolah hari ini. Badan gue terasa parah banget! Gue terlalu banyak mikir semalam, dan gue juga nggak tahu mata gue sembap atau nggak.’ Batin Adit.
Semua terasa seperti mimpi, ketika ia mengetahui bahwa ia tak akan pernah lagi diijinkan menengok bundanya, atau sekedar menanyakan keadaannya. Hakim memutuskan bahwa Adit akan diasuh oleh ayahnya, dan ayah berharap Adit tak pernah menemui bundanya lagi.
Ia mengucek matanya yang mulai berkunang-kunang(lagi!). Memaksakan tubuhnya berdiri dan berjalan gontai untuk meraih handuk yang bertengger di belakang pintu. Menyerongkan badannya dan berjalan lagi menuju kamar mandi. Ia harus bersiap-siap, dan jangan sampai wajah tampannya luntur ditelan kantung hitam matanya. Ia akan terlihat lebih segar setelah mandi.
Adit menyalakan air hangat, kemudian mengukur panas air dengan tangannya. Setelah dirasakan sudah pas, ia lalu membasahi tubuhnya, badannya terasa rileks dan lebih ringan dibanding tadi. Beberapa menit kemudian, cepat-cepat ia membersihkan tubuhnya dan menggosok seluruh tubuhnya. Setelah selesai, diambilnya handuk dan berlari keluar untuk bersiap-siap.
Ia berdiri di depan kaca, menatap dirinya yang begitu kacau. Dirinya harus terlihat lebih rapi dari ini. Ia menyisir sedikit rambutnya dan menyemprotkan sedikit minyak wangi. Setelah itu ia berlari menuruni tangga menuju meja makan.
Ayah sudah duduk di meja makan. Sepertinya dia sudah menunggu dari tadi dan tak sabar untuk menyerang sarapannya. Adit langsung menarik bangku lalu duduk. Ayahnya memperhatikan dirinya saat ia membuka piring dan mengambil nasi goreng yang dibuat bibi pagi ini. Cukup enak. Tapi jelas, Adit lebih menyukai masakan bunda. Ayah pun mengambil sendok dan mulai menyantap sarapannya.
Baru saja dua suap nasi goreng ditelan olehnya, Adit melihat ayahnya menghentikan aktivitas sarapannya. Ayahnya lalu menoleh ke arah Adit.
“Dit, nanti kamu berangkatnya ayah antar, ya..” Wajah tenang ayah nampak serius. Tapi, Adit begitu malas menanggapinya. Sejak kemarin diputuskan ayahnya yang akan merawatnya, Adit merasa sangat kecewa. Adit, yang justru sangat benci pada ayahnya karena telah membuat bundanya pergi dari sisinya, harus merelakan sisa-sisa hidupnya tinggal bersama sang ayah. Adit hanya diam mendengar ayahnya tanpa memberi jawaban. Akhirnya, ia tetap meneruskan melahap sarapannya.
“ Dit..” katanya lagi. “ nanti ayah antar saja, ya..”
Wajahnya terlihat berharap. Adit mulai tak suka melihatnya begitu. Adit diam sejenak. Ia masih butuh waktu untuk dekat lagi dengan ayahnya semenjak peristiwa perceraian ayah dan bundanya. Dirinya masih tidak menyangka bahwa yang di hadapannya itu yang harus merawatnya. Sudah selingkuh, tidak pernah memperhatikan keluarga, jadi ayahnya pula! Suatu kesalahan sekaligus kenyataan yang pahit.
Adit mendongakkan kepalanya, mencoba berkata sehalus mungkin padanya.
“Nggak usah ,yah.. aku bisa berangkat sendiri kok.. nggak usah diantar sama ayah..”
Dilihatnya ada sedikit kekecewaan di wajah ayah. Adit sedikit mengerti perasaan ayahnya. Ayahnya mencoba menarik perhatiannya. Tetapi, apa ayah mengerti perasaannya saat ini? Adit masih merasa risih dengan kehidupannya yang sekarang ini. Tak ada masakan bunda dihidangkan di atas meja pagi ini. Dan begitu juga yang akan terjadi seterusnya. Nasi goreng ini jadi tak lagi untuk disantapnya. Adit menghentikan sarapannya.
Air muka ayah berubah begitu melihat tingkah Adit yang mulai risih dengan kata-katanya. Dia terlihat sedikit kesal dan mungkin dia kecewa.
“Kamu kenapa, sih, Dit? Sejak ayah cerai sama bunda kemarin kamu ketus begitu sama ayah..”
Bukankah itu pertanyaan yang bodoh? Tiap orangtua pasti tahu apa yang seharusnya dirasakan Adit saat ini. Punya orangtua yang bercerai itu cuma bisa bikin perasaan anak jadi sakit. Orangtuanya yang bercerai karena ayahnya selingkuh dengan seorang sekretaris muda yang cantik di perusahaan ayahnya-lebih cantik bunda tentunya- yang suka cari muka sama ayahnya. Mungkin untuk mendapatkan jabatan yang lebih tinggi dari sekretaris. Yaitu jadi “Nyonya Rumah” di rumah semewah dan semegah ini.
Apa Adit bisa menerima perceraian orangtunya yang mendadak itu? Tentu tidak. Adit lebih sayang bunda daripada ayah. Sekarang ia mulai berpikir, punya ayah seperi lelaki di hadapannya itu merupakan aib terbesar seumur hidupnya.
“Ayah nggak tahu, kan? Kalau aku menangis semalaman, merasa kecewa dengan hidupku, terutama pada ayahku sendiri...” ketusku sedikit membentak. “Andai ayah nggak selingkuh, bunda tak akan pernah pergi, yah… Apa kurangnya bunda, yah?Selama ini aku dirawat bunda dengan penuh kasih sayang.. sedangkan ayah? Apa gunanya ayah mencari nafkah untukku tapi ayah malah jalan sama wanita lain selain bunda??” Adit mulai mengeluarkan kata-kata tajam. Adit menatap ayahnya dengan tatapan penuh kebencian. Ia benar-benar merasa sangat kecewa padanya, amat sangat kecewa.
Keadaan mulai sedikit menegang. Mata ayah mulai membelalak tidak percaya. Adit tidak begitu terkejut melihat ekspresi ayahnya. Adit melanjutkan kalimatnya.
“Yah.. Aku benci sama ayah.. benci sekali ! Ayah tu menyebalkan !” Aku mulai meracau. Mungkin terlalu keras untuk diucapkan, apalagi harus didengar oleh ayahnya.
Adit mengambil serbet dan membersihkan mulutnya, ia melempar sendok dan garpu, mendorong kursinya ke belakang, dan berlari membawa kunci motornya keluar. Tak ada yang perlu dijelaskan lagi. Kata-kata tadi sudah cukup jelas untuk dimengerti oleh ayahnya.
Selama dirinya berlari keluar dan mengambil motornya, ia mendengar ayahnya masih berteriak keras memanggil namanya. Adit hanya diam dan berkonsentrasi menyalakan mesin. Dia harap ia bisa melakukannya lebih cepat lagi sebelum ayah keluar melalui pintu itu, dan semoga saja ayah belum ada di rumah saat ia pulang nanti.
Mesin motor sudah menyala, tak perlu ba-bi-bu lagi Adit pun melajukan motornya sekencang mungkin. Gas ditarik penuh sehingga motornya mengeluarkan suara bising. Ia tak akan menoleh ke belakang. Ia meyakinkan dirinya bahwa ia harus menjalani hidupnya dengan indah, harus bisa tanpa bunda, ataupun tanpa ayahnya.
Adit memandang lurus ke depan dan mengendarai motornya dengan ugal-ugalan. Ia sudah kesal. Ia berpikir bahwa ayahnya memang tidak pernah mengerti dirinya, atau pun mengkhawatirkan dirinya. Ayah tak akan pernah cemas meskipun dirinya tidak pulang ke rumah. Umpatan demi umpatan memenuhi pikirannya. Ini memang awal yang buruk.
‘Ok! Gue rasa gue udah terlalu banyak mengeluh pagi ini. Semoga nggak ada masalah lagi di sekolah.’ Keluh Adit dalam hati. Dirinya benar-benar berharap.
***********
Dea melihat Adit keluar rumah dengan wajah kesal. Adit terlihat sangat terburu-buru dan terlalu cepat untuk melajukan motor ninjanya itu. Dea cemas melihat Adit yang begitu kacau pagi ini. Terdengar suara ayahnya Adit dari dalam memanggil-manggil Adit dengan suara lantang dan keras. Segala sumpah serapah juga mengiringi langkahnya hingga ia masuk ke dalam mobil sedan hitamnya.
‘Apa dia ada masalah dengan ayahnya, ya?’ Pikirnya.
Kak Aghi, kakak Dea, menatap adiknya dengan heran. Ia melihat adiknya berdiri di belakang tembok, sambil mengintip ke rumah tetangga sebelah. Suara motor di rumah tetangganya begitu bising sehingga Kak Aghi harus menutup telinganya serapat mungkin.
Dea masih terpaku di tempatnya. Kak Aghi menghampiri adiknya. Ia menepuk pundak Dea keras.
“Aduh.. “ Dea mengerang. Melotot pada kakaknya sambil berkacak pinggang.
“Sakit tahu!” katanya lagi.
Kak Aghi hanya tertawa melihat tingkah adiknya itu. Dia menggelengkan kepalanya, lalu mengucek sedikit rambut Dea yang tadinya sudah sangat rapi.
“Mau sampai kapan kamu berdiri disitu? Kamu nggak berangkat sekolah?” Kata Kak Aghi masih dengan gaya tertawanya yang aneh.
Di rumah Dea, saudara kandung itu harus berkomunikasi dengan aku-kamu. Jadi tidak boleh asal sebut gue-elo. Tidak sopan! Begitu katanya.
Dea menaikkan alisnya. Menatap jam tangannya. Matanya melotot dan… seperti biasanya, ia menepuk keningnya, dan berlari-lari ke depan jalan untuk mencari angkutan umum atau apapun yang bisa membuatnya bisa sampai ke sekolah tepat waktu.
Kak Aghi semakin gencar tertawa. Melihat tingkah adiknya yang konyol dengan seragam sekolahnya. Ia lalu mengeluarkan mobil, menyalakan mesinnya, dan menyusul adiknya yang panik sedang beridiri di pinggir jalan.
“Jangan konyol, deh… Aku antar kamu ke sekolah. Ayo cepet !” ujarnya dari dalam mobil. Dea tersenyum riang karena dirinya masih ada kesempatan untuk sampai di sekolah tepat waktu.
“Ide yang bagus, kak! Haha… thanks banget !”
Dea membuka pintu mobil dan buru-buru masuk. Takut terlambat. Bisa-bisa ia disuruh membersihkan toilet sekolah oleh guru piket yang galak itu. Uhh.. ia tak akan tahan dengan bau menyengat toilet sekolah.
“Aneh, sih, kamunya.. udah jam segini, kamu malah bengong ngeliatin rumah tetangga, emang ada apaan sih?” Kak Aghi membuka percakapan.
Dea masih menyisir rambutnya karena ulah kakaknya tadi. Lagi pula dia juga jogging barusan.
“Tadi aku ngeliat Adit mukanya kucel banget.. kupikir dia lagi bertengkar sama ayahnya.. orangtuanya, kan, baru cerai.. dia akhirnya dirawat sama ayahnya.. sedangkan dia nggak pernah suka sama ayahnya..” kata Dea –masih sambil meyisir rambut- pada Kak Aghi.
Kak Aghi yang sedang menyetir mobil menoleh sebentar. Melihat adiknya yang sedang menyisiri rambut.
“Kok kamu tahu banget, sih, tentang Adit? Perhatian pula.. Kamu suka, ya, sama Adit?”
Dea berhenti menyisir, seperti rambutnya jadi tiba-tiba kusut. ‘ohh.. Jangan sampai Kak Aghi tahu.. bisa diejek habis-habisan aku sama dia..’ ujarnya dalam hati. Ia harap wajahnya tidak memerah saat ini.
“Wajahmu merah tuh.. bener ya kata Kak Aghi?” Katanya sambil menyipitkan mata dan tersenyum licik. Dea tahu pasti akan kacau kalau kakaknya akan membocorkan semua isi hatinya pada siapapun yang ditemuinya. ‘Mulut ember!’ pekiknya dalam hati.
Dea menggelengkan kepala. Berusaha bicara semantap mungkin. Dea kemudian mendesah.
“Hahh.. emang wajahku merah? Aku ini sedang panik tahu! Bisa-bisa aku terlambat kalau kakak ngoceh terus.”
“Tapi wajahmu benar-benar merah, De..” ujarnya licik. Wajah Kak Aghi itu mulai membuatnya kesal. Dea menggeleng lagi.
“Terserah, deh, aku nggak suka Adit. Dan awas aja kalau aku sampai terlambat sampai sekolah.”
Kak Aghi mengangkat bahunya, dia manggut-mangut sambil tersenyum centil. Uuh.. betapa menggelikan kalau punya kakak cowok yang mulutnya ember.
Dea akhirnya meneruskan menyisir rambutnya. Ia melihat keluar jendela, memikirkan masalah wajah Adit yang murung pagi ini. Andai saja Adit itu benar-benar kekasihnya, ia akan rela untuk selalu ada di sisi Adit dan mendengar keluh kesahnya.
‘I was really expecting it!’ ucapnya lirih dalam hati.
“Oh iya, De.. nanti pulangnya kakak jemput nggak? Atau mau dijemput sama Aa Deden?” Kak Aghi menyodorkan pertanyaan lagi. Yah, masih lebih baik daripada ditanya soal Adit lagi. Bisa-bisa aku salah tingkah.
Perhatian. Aa Deden adalah adik dari pembantunya Dea. Dia sering jemput Dea kalau Dea pulangnya sedikit telat. Dan… ada yang lebih bikin sebel kalau sudah kesorean pulangnya, terus minta dijemput Aa Deden. Kalian harus tunggu satu jam dulu baru Aa Deden muncul di hadapan kalian. Setengah jam pertama buat telpon Aa Deden (jarang diangkat karena lupa bunyi ringtonenya sendiri), setengah jamnya lagi buat tunggu dijemput (suka lewat jalan yang lumayan jauh, padahal ada jalan yang super deket).
Dea diam sejenak. Mulai menimbang-nimbang pertanyaan yang diajukan Kak Aghi. Sebenarnya tidak usah ditimbang-timbang juga lebih enak bareng kakaknya. Lebih baik dia dijemput kakaknya daripada harus sama Aa Deden. Ia bisa mati kalau terus bersamanya sepanjang perjalanan pulang ke rumah. Kalau diajak ngobrol nggak pernah nyambung dan justru bikin bete. Sudah diputuskan!
“Sama Kak Aghi aja deh.. gedeg aku kalau bareng Aa Deden.. ” ucapku.
Kak Aghi manggut-manggut lagi. Mungkin ia sudah terlalu bingung untuk melakukan hal lain. Tapi, dirinya cukup bersyukur karena ia bisa punya kakak sebaik Kak Aghi. Kak Aghi selalu tahu apa yang ia inginkan.
Dea tersenyum kecil. Kak Aghi menawarkan beberapa tempat dan waktu untuk kupilih. Dea memilih Café Cemara di depan sekolah jam setengah 4 sore nanti. Dan lagi-lagi, Kak Aghi hanya mengangguk lalu memutar setir mobil ke arah kiri.
Lampu lalu lintas menyala merah. Kak Aghi menghentikan mobil seperti aturan. Setelah belokan di depan, akan sampai ke SMA Harapan. Sekolah itu mungkin termasuk yang terkenal di kota ini. Ia baru memasuki sekolah itu beberapa bulan yang lalu. Itu adalah hal yang wajar yang harus Ia lakukan setelah lulus SMP, yaitu harus sekolah di SMA.
Lampu sudah menyala hijau. Kak Aghi menjalankan lagi mobilnya menuju ke sekolah. Dea sudah tak sabar untuk sampai di sekolah supaya bisa melihat Adit. Beruntung ia sekelas dengan Adit. Setiap hari tiada hari tanpa Adit. Tidak di sekolah, di rumah, tetap saja ia bisa melihat Adit setiap hari. Lagi-lagi Dea tersenyum kecil. Senang rasanya. Ia benar-benar merasa sangat beruntung.
******
Adit masih tetap melajukan motornya dengan cepat. Dengan sedikit drift yang keren, ia memasuki halaman disertai tatapan entah heran atau kagum padanya. Adit memarkir ninjanya. Ia membuka helmnya. Dan.. tampak para siswi memperhatikan dirinya. Tepatnya, memperhatikan wajahnya. Bukan karena kucel atau apa, tapi, sungguh, Adit terlihat keren.
Ia memang bangga punya wajah yang tampan. Banyak banget cewek yang udah nembak dia, tapi, tak ada satu pun yang diterimanya. Kecuali, saat dia masih SMP, dia punya pacar namanya Tasya. Gadis yang cantik dan anggun, pintar, dan aktif di segala kegiatan yang ada di sekolahnya. Tapi, mereka putus secara tidak jelas, karena Tasya pindah keluar kota, dan akhirnya mereka lost contact. Pada akhirnya, Adit tahu bahwa Tasya sudah punya pacar lagi, padahal belum ada kata putus diantara mereka.
Menyangkut hal itu, Adit sekarang sudah malas pacaran. Ia berpikir bahwa cewek bakalan melempar pacarnya jauh-jauh setelah si cewek menemukan tambatan baru. Dan itu akan terjadi dalam waktu dekat.
Adit melangkah menuju ke kelas, masih dengan banyak mata tertuju padanya. Anak cowok kelas XI dan XII melihatku sinis seakan semua cewek sudah kurebut dan tak akan ada yang mau memalingkan wajahnya pada cowok-cowok itu. Jelas. Wajahku ini bisa menjadi bencana.
Dilihatnya Rio melambaikan tangan ke arahnya dan berteriak keras memanggil namanya. Adit mengangkat alis, lalu berjalan menuju ke tempatnya.
Rio adalah sahabat Adit sejak SMP. Setiap hari selalu berdua. Kami berdua itu sudah soulmate banget. Adit menepuk tangan Rio yang sudah bersiap menyambut. “Tos !” Kata Rio sambil tersenyum.
Adit membalas senyuman Rio dan segera menarik Rio untuk masuk ke kelas. Sebentar lagi jam 7, bel akan segera berbunyi, dan Pak Burhan akan masuk ke kelas. Rio terlihat pasrah karena aku menariknya keras dan sangat terburu-buru.
Akhirnya Kami sampai di depan pintu X.1, ruang kelas kami berdua. Kami berjalan masuk ke kelas dengan langkah tenang, dan langsung menghampiri tempat duduk yang biasa kami gunakan. Adit melihat seisi kelas, ada yang mengerjakan PR, ada yang bercanda, itulah kegiatan anak-anak gila di kelasnya. Kalau lagi akur pasti begini, kalau sudah berselisih dengan kelas lain, tak usah pikir panjang, hantaman dari ketua kelas cukup manjur untuk mengusir musuh.
Ketika kami duduk, Rio menepuk punggungku.
“Adit, elo lama banget, sih, sampenya?” celetuk Rio.
Adit mendesah ringan. Pertanyaan sahabatnya itu membuat dirinya mengingat masalah tadi pagi di rumah. Benar-benar menyebalkan.
“Tadi cuma macet dikit aja ,kok.. Jadi agak lama..” Adit berasalan. Ia tak tahu lagi harus alasan apa. Sepertinya alasan macet bisa dimaklumi oleh Rio.
“Oohh… gitu.” Katanya manggut-manggut. “Oh iyaaa !!!” katanya lagi. Adit mengangkat alisnya dan menatap heran wajah sahabatnya.
“kenapa Yo?” Adit mengernyitkan dahi.
“Sayang banget elo tadi datang telat.. Gue tadi lihat anak baru.. cewek.. cantik banget, Dit. Manis banget muakanya!” Ucap Rio begitu bersemangat. Adit justru terlihat malas mendengarnya, dia menggelengkan kepalanya.
“Stop! Gue nggak mau dengar itu, Yo. Ganti topik aja ,deh. Ok!” kata Adit mencoba menghentikan ocehan Rio. Hal kayak begini terlalu berisik untuk didengar pagi-pagi.
“Ya ampun, Adit.. Elo masih males sama cewek? Jangan bilang elo sekarang udah jadi jeruk makan jeruk. Cewek tuh banyak lagi, Dit. Tampang cakep kayak elo mah gampang banget dapet pacar..” oceh Rio lagi.
“Kalau iya, memangnya kenapa, asal lo tahu.. Gue masih sayang sama Tasya, gue masih berharap gue bisa balikan lagi sama dia. Gue kangen banget malah sama si Tasya” Adit menjelaskan. Mudah-mudahan Rio bisa berhenti membicarakan hal ini.
“Dit, serius! Dengerin gue bentar.. cewek ini bener-bener cantik, Dit.. elo nggak akan bisa nolak dia, Dit.. Maksud gue, cuma cowok nggak normal aja yang nggak suka sama dia.. ” Rio meyakinkan Adit. Adit tetap menggelengkan kepala. Ia tidak mau lagi mendengar hal ini lebih jauh. Ia harus ingat tentang perasaannya pada Tasya. Meskipun Ia kesal terhadap Tasya. Menganggap gadis itu menyebalkan. Di dalam hatinya Adit masih mau mengatakan kalau dia tidak rela Tasya sama cowok selain dirinya. Adit masih amat menyayangi Tasya.
“Heh! Lo pikir gue nggak normal apa? Gini-gini gue sukanya sama cewek, Yo..” desisku sedikit tersinggung dengan normal tidaknya yang dikatakan Rio.
“Bukan gitu, Dit.. kalo sampe ada cowok yang nggak suka sama dia berarti nggak normal tuh..” Kata Rio sedikit cemberut dan dengan nada yang mencoba meyakinkan gue kalau cewek yang tadi pagi dilihat sama dia itu benar-benar cantik. Peduli setan, deh!
“Udah ah.. Pak Burhan udah masuk tuh..” Adit mengeluarkan buku matematikanya. Tak berapa lama Rio langsung menepuk keningnya.
“Apa lagi, sih?” Kata Adit tak percaya. Rio menatap Adit cemas. Adit semakin heran. Ada apa lagi dengan sahabatnya ini??? Rio tercenung sebentar.
“Haa??” Adit masih bingung. Rio berdehem sebentar, “ehem.. gue belum ngerjain PR matematika, Dit. Gawat!”
Rio panik melihat sekeliling yang rata-rata semua sudah mengerjakan PR sejak tadi saat Rio sibuk menceritakan cewek yang dilihatnya. Adit merasa iba melihat sahabatnya begitu cemas. Ia rasa ia harus meminjamkan buku PR-nya pada sahabatnya itu. “Nih! Makanya, jangan ngomongin cewek terus..” Kata Adit mengejek lalu terkekeh kecil.
Meskipun Rio berterima kasih karena sudah dipinjami PR-nya Adit, Rio sedikit sebal dengan kata-kata Adit barusan. Tersinggung gitu, deh. Bukannya dia kebanyakan ngomongin cewek, tapi Aditnya aja yang tidak waras. Adit belum lihat tu cewek ,sih.
Rio hanya terkekeh kecil menjawab kata-kata Adit lalu mulai menyalin PR Matematika. Adit membuka halaman buku matemikanya. Dilihatnya deretan angka yang terlihat sedikit sulit untuk dipecahkannya.
Adit melirik ke arah Rio sebentar. Melihat kepanikan dan kecemasan saat menyalin PR. Melihat anak-anak lain mengganggu Rio supaya PR-nya tidak selesai. Melihat seluruh murid X.1 menahan tawa melihat tingkah Rio.
“haahh..” Desahnya. ‘Di sekolah memang lebih baik.. banyak anak baik.. banyak yang baik-baik daripada di rumah.’ Lirihnya dalam hati.
Terdengar suara ketukan pintu. Seluruh kelas langsung menatap ke arah pintu. Sedangkan Rio memanfaatkan kesempatan itu untuk menyelesaikan PR-nya dengan baik dan lancar.
Adit melihat seorang gadis membungkukkan badannya. Terdengar napasnya yang sedikit tersengal. Wajahnya memelas saat ditanya guru, berusaha mendapatkan pengampunan karena dia terlambat masuk kelas.
Dea. Tetangga Adit. Yang jarak rumahnya tidak begitu jauh dari sini. Entah kenapa bisa terlambat ke sekolah sampai-sampai napasnya tak beraturan dan rambutnya yang diikat kuda sudah tidak terlihat rapi lagi.
Adit kembali memperhatikan bukunya sambil menggelengkan kepala setelah melihat tingkah cewek yang barusan datang.
Setelah masalah terlambat itu selesai, Pak Burhan meminta anak-anak mengumpulkan PR yang sudah ditugaskan. Sekarang giliran Rio yang terlihat lemas. Wajahnhya memelas ke arah Adit. Adit tersenyum geli melihat sahabatnya dihantui perasaan panik dan cemas karena ia belum menyelesaikan PR nya.
“Gimana, nih, Dit?” Ujarnya cemas. Adit menggedikkan bahu. Mendesah sebentar. Lalu mulai memberikan pengarahan kepada Rio.
“Kumpulin aja, Yo. Pasrah aja.. terus berdoa sebanyak-banyaknya biar nggak kena marah Pak Burhan.” Jawab Adit enteng. Dengan cemas Rio menyerahkan buku PR-nya ke ketua kelas. Robby sang ketua kelas hanya tertawa melihat wajah Rio yang pucat.
“Iya, Yo.. Pak Burhan kan nggak bakal gigit elo kalo ga selesai ngerjain PR. Paling elo cuma dikurangin nilainya.. “ ujar Robby ringan.
“Gila lo, Bi? Nilai gue aja pas-pasan dia masih tega ngurangin nilai gue???” Rio sedikit terkejut karena nilainya akan dikurangi. Robby ngeloyor pergi dan meletakkan buku-buku itu ke meja guru.
Adit menepuk pundak Rio ringan. “Sabar aja, Yo.. Tenang.. ini bukan kiamat, Yo..” katanya. Rio mendesah keras dan menarik napas dalam-dalam lalu membuang napas banyak-banyak. Adit geleng-geleng kepala. Kemudian tersenyum kecil.
“Nasib lo, Yo..” ujarku sambil terkekeh riang. Rio hanya mencibir dan menatapnya dengan wajah cemberut dan bibirnya dimonyong-monyongkan.
“Idiiihhh… Amit-amit .. Sok imut lo! bibir pake dimancungin segala..” kataku iseng. “Biarin! Weee..”
Adit hanya menggelengkan kepalanya, lalu fokus pada pelajaran matematika yang diterangkan Pak Burhan. Adit mulai mencatat dengan rapi. Ia ingin lebih meningkatkan prestasi akademiknya.
******
“ Buset! Kok elo tadi baru nyampe jam segitu, sih, De?” Selly heran sahabatnya tadi datang terlambat ke kelas dengan wajah tak karuan.
Dea menepuk dadanya sebentar berusaha menarik napas sedalam-dalamnya. ‘jangan-jangan gue sekarang kena asma, nih..’ pikirnya kacau. Dea meneguk air mineral yang baru saja dibelinya di kantin. Akhirnya, bel jam istirahat tadi berbunyi, kalau tidak, mungkin dia akan mati kehabisan napas dan shock mendengar ceramah Pak Burhan.
Selly masih heran. Tak didengarnya jawaban sahabatnya sejak ia menyelesaikan pertanyaan tadi. Maklum, tadi ia tak sempat bertanya karena Dea disuruh menunggu di luar sampai jam pelajaran Pak Burhan selesai. Dan tak lama Pak Burhan memberikan tugas yang sulit dan keluar menceramahi Dea.
Selly membantu menepuk pundak Dea. Mungkin, Dea terlambat karena tadi Dea dikejar-kejar teroris yang membawa senapan besar sehingga memaksanya untuk berlari hingga ia harus kehabisan napas seperti ini.
Melihat wajah Selly yang cemas, Dea tersenyum kecil memberi sinyal untuk tidak khawatir. ‘Sumpah! Ini sedih banget jadinya! Seakan-akan gue terluka parah dan udah nggak ada kesempatan buat hidup lagi!’ batin Dea lirih. Dea mulai angkat bicara.
“Sori, ya, Selly… Tadi gue terlambat banget.. hehe” Dea mengulas senyum. Wajah Selly terlihat hampir menangis. Dea menganggukkan kepala lalu menutup matanya perlahan. Oh! Bukan! Dea lalu mencoba membuat Selly tenang.
“Tenang Sel, tadi gue kesiangan.. jadinya terlambat .. pas gue dianter Kak Aghi, eh malah kena macet .. padahal dikit lagi belokan kompleks.. karena lama, Kak Aghi nyuruh gue duluan aja. Dan ternyata waktunya udah mepet banget, terpaksa gue lari marathon 500 meter sampe ke sekolah.. Dan inilah gue sekarang!” Jelas Dea dengan tenang. Takut Selly malah khawatir.
“ Wah, Gila! Keren banget lo, De! Kalo gue jadi lo gue uda pingsan daritadi kali ..” ujarnya spontan dengan wajah heran namun senang. Ia tak jadi khawatir.
Dea juga senang karena dia sudah lebih merasa ringan. Tadi pagi benar-benar melelahkan. Capek banget rasanya!
Dea merasa sedikit kesal gara-gara kejadian tdai pagi. Coba saja tidak macet tiba-tiba, dia juga pasti tidak akan terlambat dan dipermalukan seperti tadi di depan kelas. Sudah begitu wajahnya juga acak-acakan saat ia datang tadi. Pasti Adit mentertawakannya!
Dea menepuk-nepuk kepalanya dan menggeleng kuat. ‘Adit nggak mungkin ngetawain gue ! Adit tuh punya hati.. Pasti dia prihatin sama gue karena tadi gue datengnya telat.’ Pikir Dea.
Merasa mereka terlalu lama di kantin, akhirnya mereka memumutuskan untuk kembali ke kelas. Ketika mereka masuk. Banyak anak cowok yang berkumpul membentuk lingkaran. Mereka terlihat serius dengan pembicaraan mereka. Terutama Rio. Wajahnya bersemangat ngoceh sana sini. Dan diantara kerumunan itu ada Adit! Tapi, wajah Adit terlihat tidak peduli dan mulai memasang headsetnya. Mengutak atik i-podnya dan mulai mengangguk-anggukan kepalanya mengkuti irama musik yang didengarnya.
Selly yang penasaran menarikku ke arah kerumunan cowok-cowok yang sedang sibuk.
“Yuk, De.. Kesana! Gue mau tahu mereka pada ngomongin apaan.. kayaknya seru banget !”Ujar Selly semangat. Tubuhku yang masih sedikit loyo hanya bisa mengiyakannya dengan membiarkan tubuhku ditarik-tarik oleh Selly.
Ketika kami datang, semuanya terdiam. Rio mengomeli kami.
“Yee.. cewek ngapain dateng! Kita lagi seru, nih..” wajah kesal disuguhkan pada kami. Semuanya mengangguk setuju dengan perkataan Rio. Kecuali Adit. Dia masih asyik mendengarkan lantunan i-podnya, kali ini sambil baca komik.
“Ih.. Pelit amat, sih, Yo… Kalo ada kabar gembira bagi-bagi dong.. Kalian pada semangat cerita, sih, jadi gue tertarik..” Ucap Selly enteng. Rio menangkupkan tangannya. Mendesah ringan. Lalu menggelengkan kepala.
“Udahlah.. lo juga nggak bakalan tertarik Sel.. Gih, sono! Hus..”Rio mengusir mereka supaya cepat angkat kaki dari hadapannya. Dea menenangkan Selly.
“Ya udah, Sel.. Ngapain juga kita ikutan nimbrung sama anak cowok… Kita nimbrung sama Lala aja tuh.. Yuk!” Ajak Dea ketika melihat sepertinya Lala juga punya cerita seru. Lala dan teman-teman cewek lainnya juga ikutan heboh berkumpul di sisi lain. Selly ikut menatap kea rah yang sama dengan Dea. Akhirnya Selly memutuskan untuk nimbrung bareng Lala. Mereka berjalan menuju Lala dan kawan-kawan yang duduk di dekat jendela di belakang. Anak-anak cowok kembali sibuk dengan obrolan mereka.
Lala yang melihat Dea dan Selly melangkah ke arah kerumunannya melambaikan tangan kanannya ke arah mereka.
“Dea.. Selly.. sini deh.. Ada berita baru..!!!! Penting!!!!!!” Ucap Lala lantang. Mereka yang melihat wajah serius Lala kemudian menggedikkan bahunya, lalu berlari kecil ke arah Lala dan kawan-kawan.
******
Anak-anak cewek semuanya sudah berkumpul. Ada yang bersemangat, ada yang terheran-heran, ada yang malas-malasan, ada juga yang benar-benar tidak tertarik dengan ajakan Lala. Dea dan Selly memilih bangku yang paling dekat dengan Lala. Biar lebih jelas maksudnya.
Semua mata tertuju ke arah Lala. Yang tidak mendapatkan tempat duduk menunduk supaya bisa mendengarkan suara Lala dengan baik. Lala memulai diskusi.
“Gue dapet berita baru, yang pasti, kita akan segera terisingkir dari sini.” Semua yang mendengar Lala berkata begitu merasa heran. Tidak mengerti apa maksud perkataan Lala barusan. Semua hening dan menunggu cerita Lala selanjutnya.
Lala berdehem sebentar. “hm.. gini, tadi gue liat ada anak cewek mondar-mandir di sekolahan kita. Terus dia masuk ke ruang kepsek..” Lala berhenti sebentar, lalu melanjutkan kembali. “Iya.. ternyata dia anak baru.. denger-denger, dia bakalan masuk kelas kita. Udah gitu, tu cewek mulus banget.. manisss banget kayak gula ! Bisa kesingkir nih cewek-cewek di kelas kita gara-gara dia..” wajah Lala sedikit kesal sebentar kemudian hilang.
Semua yang mendenagar cerita Lala ber-oh ria dan mengangguk-angguk. Mereka mengerti apa maksud dari cerita Lala. Anak cewek baru, cantik, masuk kelas X.1, dan bakalan jadi inceran para cowok di kelas. Dan para siswi kelas X.1 tidak akan dilirik oleh para siswa lagi. Maklum, anak cowok kelas X.1 rata-rata mukanya berkelas. Tapi yang paling cakep jelas Adit ! Banyak banget malah yang udah nembak dia, tapi tak ada satupun yang diterima cintanya sama Adit. Intinya, para cewek itu hanya bertepuk sebelah tangan.
Wajah Lala cemas. Berlebihan kalau menurut Dea. ‘Tapi benar juga, sih. Kalau tu cewek naksir Adit gimana? Secara dia yang tercakep seantero SMA Harapan. Kakak kelas aja kalah! ’Batin Dea. Dia sedikit khawatir kalau-kalau hal itu benar terjadi. Tapi, hatinya tetap yakin, secantik apapun cewek itu, dia tidak akan bisa meluluhlantakan hati Adit yang selama ini sering nolak cewek, dan j uuga rasa sayangnya ke Tasya itu tidak main-main.
Dea tahu kalau Adit masih sayang sama mantannya yang namanya Tasya. Makanya, Adit selalu nolak siapapun yang nembak dia. Dan karena itu juga, sampai sekarang Dea tidak pernah menyatakan perasaannya pada Adit, sebesar apapun cintanya dia sama Adit. Tembok besar itu menutup hati Adit, sehingga tidak ada celah buat Dea mengisi kekosongan di hati Adit.
“huuh.. “ Desahnya. “mudah-mudahan nggak kejadian bener, deh..” Dea mulai cemas. Batinnya tak tenang. Setelah bel istirahat ini selesai. Anak baru itu akan masuk ke kelas dan mulai belajar berasama dengannya. Dea hanya bisa pasrah. Berdoa. Semoga Dewi Fortuna memihak dirinya. Cintanya pada Adit tidak akan pernah berubah. Jangan harap dirinya akan menyerah begitu saja.
******
Bel berbunyi. Diskusi norak itu juga sudah selesai. Adit melepaskan headsetnya dan menutup komiknya, lalu menyimpan semuanya di dalam tas ransel hitamnya. Rio masih sedikit dengan ceritanya. Dia terus menghadap belakang dan bicara dengan Robby dan Alvin.
Adit menyiapkan buku pelajaran berikutnya. Habis ini pelajaran sejarah. Buku-buku yang dikeluarkan dari tasnya ditata dengan rapi di meja. Semua alat tulis juga sudah disiapkan. Sebentar lagi Pak Anung akan masuk. Adit membaca-baca sebentar buku sejarahnya, hitung-hitung buat menambah ilmu, supaya nanti kalau ditanya sama Pak Anung dia masih bisa menjawab dengan baik.
Benar, tak lama setelah itu, Pak Anung masuk dengan penuh senyum. Rambut yang ditata klimis tak juga memperindah penampilannya. Kalau kacamatanya setebal itu, mau dipermak habis-habisan juga tidak akan pengaruh.
Pak Anung meletakkan buku-bukunya dia atas meja. Merapikan sebentar, lalu menghadap kea rah murid-murid yang sedang duduk rapi.
“Anak-anak, kalian kedatangan murid baru yang cantik.” Pak Anung masih tersenyum lebar. “Ayo,silakan masuk dan perkenalkan dirimu.” Sahut Pak Anung. Seorang gadis (yang menurutku biasa saja) masuk ke kelas. Ini dia cewek yang daritadi sudah menjadi bahan pembicaraan banyak siswa. Lihat saja. Semuanya malah bengong. Ada yang menganga dan membuka mulutnya lebar-lebar, yang cewek-cewek terlihat sedikit sinis karena merasa kalah cantik. Kecuali Dea. Dia terlihat biasa saja, tersenyum dan sangat menerima kehadiran anak baru ini.
Adit menatap santai Dea, hanya sebentar, lalu kembali lagi tatapannya ke arah anak baru. Apanya? Biasa aja tuh.. Berarti yang tidak normal tuh anak-anak cowok di kelas ini!
Baru ditatap sebentar, tak sengaja anak baru itu menangkap mata Adit. Adit terkejut dan mengangkat alis. Wajah anak baru itu langsung langsung bersemu merah. Dia terlihat salah tingkah. Adit menggaru-garuk kepalanya. ‘Cewek aneh! Perasaan yang ngeliatin bukan gue doang.’ Ujar Adit dalam hati. Adit kemudian membuka bukunya dan menjawab soal-soal yang terpampang di halaman-halaman buku itu. Ia sama sekali tidak mau memperhatikan.
Seberapapun Adit menolak mendengarkan, akhirnya tetap kedengaran juga. Selain karena seisi kelas hening, suara anak itu cukup lantang juga. ‘Ok! Dia boleh bicara, dan gue tetap harus menjawab soal-soal ini.’ Desis Adit dalam hati. Semoga acara perkenalan ini cepat selesai.
Dari apa yang dijelaskan cewek baru itu, Adit mengerti bahwa namanya adalah Ariani Zahrantiara. Panggilannya Rani. Dia pindah dari Bandung karena ayahnya punya proyek baru disini yang harus diurusi. Dan dari semua aksesori yang dipakai si Rani ini, Adit tahu kalau Rani itu anak orang kaya alias tajir. Sepatunya juga bukan sepatu murahan biasa, tapi udah berkelas banget. Tasnya juga tas mahal. Pernah sekali dia lihat di mall. Saat jalan-jalan dengan bundanya, tas ini benar-benar sangat mahal. Apalagi rumahnya ya? Lebih besar rumahnya atau rumah Rani? Yah.. jadikanlah itu semua misteri Ilahi yang belum terpecahkan.
Setelah selesai Rani dipersilakan duduk. Semua mengucapkan selamat datang dan selamat belajar bersama. Saat Rani melewati Adit, entah kenapa Rani terlihat menatapi dirinya terus. Aduh, Adit udah males banget. Itu pasti benih-benih cinta udah kesebar di pikiran si Rani itu. ‘Benar kali,ya? Kalau muka gue tuh cakep abis. Jadinya banyak yang jatuh cinta pandangan pertama sama gue… ’ pikirnya geli.
Kembali ia perhatikan Pak Anung yang sedang menuliskan berbagai catatan yang harus disalin para siswa. Adit memperhatikan dan mencoba memahami apa yang disampaikan oleh Pak Anung. Walaupun pelajarannya dikenal membosankan, tidak bagi Adit. Semua pelajaran itu akan menyenangkan kalau kita bisa memahami dengan baik. Lagipula, kalau kita bisa memahami dengan baik, nilai kita tidak akan berada di bawah rata-rata.
Adit adalah siswa yang terpintar satu angkatannya saat ini. Dulu, bundanya selalu memuji hasil akademiknya selama ini. Bundanya sangat bangga dengan Adit. Tapi, semua ini belum cukup menurut Adit. Dia harus bisa lebih meningkatkan nilainya lagi untuk membersihkan angka 80 di rapotnya. Sehingga hanya ada angka 90 hingga 100 menghiasi tiap lembar rapotnya.
Adit mendesah sebentar saat mencatat tulisan Pak Anung di papan tulis. Banyak banget! Tapi demi nilai, apa saja, akan ia lakukan dengan baik, jika itu bisa membuat bundanya bangga dan bahagia.
*****
Saat Rani menuju bangku barunya, jelas sekali ia melihat Rani melirik ke arah Adit. Dongkol juga melihatnya. Tapi, dia masih anak baru. Dia tidak akan macam-macam sama Adit. Kelihatannya Rani adalah anak yang baik, tidak ganjen, tidak manja, malah dia kelihatan pendiam sekali.
Rani duduk di sebelah Hana. Hana mengajaknya bicara. Keliahatannya Hana mencoba mencairkan suasana di antara mereka karena status Rani masih anak baru. Hana tersenyum pada Rani, Rani pun membalas dengan senyuman yang begitu manis. Anak-anak cowok masih memperhatikan Rani. Apalagi saat Rani tersenyum, seakan-akan para cowok juga hanyut dalam kebahagiaan Rani. Ada-ada saja.
Dea mengetuk pulpennya berkali-kali, mencoba memahami pelajaran Pak Anung dengan baik. Sebenarnya, Dea tidak punya masalah dengan nilai akademiknya. Nilainya tak pernah di bawah angka delapan. Hanya saja, sekarang semuanya terasa berbeda, perasaannya juga merasa tak enak sejak anak baru itu sudah membuat heboh seisi kelas. Sepertinya aka nada masalah besar yang akan terjadi di dalam hidupnya.
Dea mencoba menenangkan dirinya. Entah kenapa jantungnya berdegup kencang. Perasaan ini terasa lain. Perasaan kehilangan yang teramat sangat. Apa yang akan terjadi setelah ini? Hatinya sebegitu cemasnya. Digelengkannya kepalanya dan mencoba kembali fokus ke pelajaran. ‘Perasaan gue aja kali.. mungkin deg degan karena tadi pagi abis marathon..’ pikirnya lagi.
Bel istirahat kembali berbunyi. Seisi kelas berhamburan keluar kelas. Adit dan Rio pun tak mau kalah. Mereka ikut berjubelan untuk bisa keluar dari kelas dan segera berlari menuju kantin, takut kehabisan tempat duduk. Di siang hari begini akan sulit untuk menemukan tempat di antara lautan manusia yang kelaparan.
Sesampainya mereka di kantin. Akhirnya mereka menemukan tempat untuk makan, lalu memesan nasi goreng dan es jeruk. Baru sebentar mereka duduk, sekelompok anak cewek berjalan menuju meja di depan mereka. Di sana juga ada Rani. Spontan Rio menarik lengan baju Adit.
“Ngapain sih lo, Yo? Homo lo, ya? Pinggirin tangan lo, gih!” Perintahnya. Rio menoleh.
“Itu ada si Rani.. Cantik banget, ya, tu cewek? Rasanya pengin gue pacarin tau nggak!” ucap Rio gemes. Adit menggeleng-gelengkan kepalanya. Dilihatnya juga Rani yang sudah menemukan teman-teman barunya di sekolah ini. Dia terlihat senang dan nyaman. Tiba-tiba, mata Rani menangkap tatapan Adit. Adit yang tersadar hanya mengangkat alisnya. Rani tersenyum padanya. Matanya hampir tertutup ketika ia tersenyum. Terlihat manis dengan rambutnya yang terurai halus. Adit merasa pernah melihat senyuman manis itu. Senyuman yang ia kenal sejak lama.
Tanpa sadar Adit juga tersenyum ramah pada Rani. Itu REFLEK! Reflek karena tadi disenyumin seperti itu! Ingat pembaca sekalian, yang tadi itu reflek!
Rio menyenggol Adit sambil senyum-senyum.
“Ciee.. iri gue sama lo tadi disenyumin sama malaikat cantik. Gila! Gue iri banget sama elo, Dit! Gue kira elo beneran jeruk makan jeruk, ternyata senyuman Rani tadi lo bales dengan senyuman maut. Liat tuh cewek-cewek di sekeliling Rani pada senewen ngeliat lo senyumin Rani.”
Wajah Adit sedikit memerah. Tadi benar-benar dia tidak sadar kalau dia tiba-tiba senyum. Dia seperti sudah terbiasa melakukan hal itu pada seorang cewek. Cewek yang dia kenal. Reflek itu. Tak salah lagi. Senyuman Rani tadi mirip banget sama senyumannya Tasya!
Pesanan mereka datang. Adit langsung tersadar dari lamunannya. Diam-diam ia merasa tertarik pada Rani. Rani mirip banget sama Tasya. Entah kenapa. Perasaan ini, perasaan ingin memiliki Tasya. Ia ingin melampiaskan perasaan itu.. entah untuk siapa.. ia ingin mengenal Rani seperti mengenal Tasya.
*****
Dea merasa sedikit kesal. Setelah tadi dia melihat Adit kasih senyumannya buat Rani. Rani,kan baru datang tadi pagi! Dia sudah bisa membuat Adit langsung tertarik itu aneh banget!
Selama ini, Dea tidak begitu dekat dengan Adit. Walaupun ia begitu menyukai Adit dan mengenal Adit luar dalam. Dulu mereka adalah teman lama karena mereka bertetangga, Dea selalu ada buat Adit. Selalu di samping Adit di saat Adit butuh. Tapi, sejak Adit pacaran sama Tasya. Dea dilupakan. Apapun yang dilakukan Dea pada Adit tidak pernah digubris. Semakin lama mereka semakin jauh dan bagaikan tak pernah mengenal satu sama lain. Padahal semakin lama perasaan Dea pada Adit makin besar. Ingin rasanya mengutarakan perasaannya pada Adit. Tapi, tidak pernah ada waktu yang tepat. Dea masih menyimpan nomor hpnya Adit, tapi, ia tak pernah berani mengirimkan SMS apalagi menelepon Adit. Sekarang, ia hanya bisa memperhatikan dan mengaggumi Adit dari jauh.
Kembali lagi pada Rani, dia barusan datang dan sekarang sudah menjadi pembicaraan di kelas. Sekarang, sudah menyebar gosip kalau Adit dan Rani saling suka. Sumpah! Itu nggak adil banget buat Dea. Ia merasa putus asa ketika gosip itu sampai di telinganya.
“Sel, kok bisa ada sih tu gosip? Darimana coba?”Tanya Dea pada Selly. Selly menarik bangku lalu duduk.
“Iya, tadi ada kejadian kalau di kantin, mereka saling kasih senyum satu sama lain. Hal itu kan langka banget buat Adit. Liat, deh, Rani diserbu sama anak-anak satu kelas.” Kata Selly sambil menunjuk Rani dengan dagunya. Dea ber-oh ria. Semakin kecewa dengan keadaannya sekarang. Ini terlalu parah! Terakhir kali Adit tersenyum padanya saat mereka masih kelas 2 SD. Semenjak itu Adit jarang main ke rumahnya. Dan saat Adit SMP, Adit pacaran sama Tasya dan memperburuk hubungan Dea dengan Adit.
Setelah bel berbunyi. Semua murid melompat ke tempatnya masing-masing. Dea terduduk dan mulai melamun. Ia masih memikirkan gosip yang tadi, kalau Adit dan Rani itu saling suka. Tapi, sekali lagi Dea mencoba meyakinkan hatinya untuk tidak terlalu larut dengan berita itu. Dea yakin, Adit masih sayangnya sama Tasya. Dan, sekarang Tasya udah nggak ada di sisi Adit. Jadi, Dea masih ada harapan. Tapi, dirinya juga harus berhati-hati, tampaknya Rani sudah mulai menyukai Adit.
*****
pict.
"I just can wait here.. I love him but I don't have wings for get him.. feel sad to be alone here.. :'("
by Dea.
give comment yaa.. :) :) :)